Desa Mata Wae Dalam Bingkai Toleransi

- Selasa, 27 Desember 2022 | 17:02 WIB
Romo Erlik dan Kades Mata Wae, Muhamad Muhar   (Istimewa )
Romo Erlik dan Kades Mata Wae, Muhamad Muhar (Istimewa )

nttmediaexpress.com - Dosen filsafat pada STFK Ledalero, Otto Gusti Madung dalam bukunya yang berjudul Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi mengungkapkan salah satu persoalan mendasar yang dihadapi oleh setiap masyarakat multikultural ialah relasi timpang antara kelompok mayoritas dan minoritas.

Akibat dari relasi timpang itu, banyak kelompok - kelompok minoritas kepercayaan mengalami penderitaan.

Tak jarang perbedaan pandangan dan keyakinan melahirkan konflik vertikal dan horizontal dalam masyarakat. 

Baca Juga: Diduga Terseret Banjir, Polsek Lembor Bersama Warga Lakukan Pencarian

Terbaru, sebagaimana diberitakan diberbagai Media masa, umat kristen dilarang melakukan ibadah natal di Desa Cilebut, Bogor.

Peristiwa serupa hampir terjadi setiap tahun saat umat kristen merayakan natal, meyambut kedatangan sang Juru selamat Yesus Kristus. Meski demikian sebagian orang atau masyarakat tetap berusaha merajut persaudaraan dalam perbedaan.

Salah satu wujud konkrit penghargaan atas keyakinan yang berbeda tampak dalam perilaku Kepala Desa Mata Wae, Muhamad Muhar.

Baca Juga: Seorang Warga Mbeliling Nekat Mengakhiri Hidupnya Dengan Cara Gantung Diri Dipohon Kopi

Potret hidup berdampingan antara umat Islam dan umat katolik di Desa Mata Wae sungguh menjadi tontonan yang menarik di tengah perayaan Natal masyarakat Mata Wae di stasi Naga.

Itu nampak dari peran umat muslim yang turut mengambil andil dalam mengamankan jalannya ibadah natal dari umat katolik.

Halaman:

Editor: Risaldus Barut

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Desa Mata Wae Dalam Bingkai Toleransi

Selasa, 27 Desember 2022 | 17:02 WIB
X