• Minggu, 25 September 2022

Warga Protes Praktik Penanaman 100.000 Anakan Bambu di Sungai Wae Bobo Matim

- Kamis, 19 Mei 2022 | 14:55 WIB
Foto: Warga RT 016 Kampung Bugis, Kelurahan Ranaloba, Kecamatan Borong saat ditemui lokasi penanaman bambu di sungai Wae Bobo, Kamis, (19/05/2022). || Foto: NTT Media Express // Yohanes Marto.
Foto: Warga RT 016 Kampung Bugis, Kelurahan Ranaloba, Kecamatan Borong saat ditemui lokasi penanaman bambu di sungai Wae Bobo, Kamis, (19/05/2022). || Foto: NTT Media Express // Yohanes Marto.

NTT Express, MATIM - Program tanam 100.000 anakan bambu di tengah aliran sungai Wae Bobo diprotes oleh warga RT 016 RW 04 Kampung Bugis, Kelurahan Ranaloba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

Pasalnya, program penanaman 100.000 anakan bambu yang disebut-sebut merupakan program kerjasama antara pihak Yayasan Bambu Lestari dengan Dinas Kehutanan Provinsi NTT melalui kantor UPTD wilayah Kabupaten Manggarai Timur dengan pihak pemerintah Kecamatan Borong tersebut dilakukan tepat di tengah-tengah wilayah aliran sungai Wae Bobo.

Baca Juga: Bupati Agas Borong Karya Kebudayaan SMPN IV Pocoranaka di Panggung Expo Pendidikan Matim 2022

Terkait persoalan tersebut, warga RT 016 Kampung Bugis yang bermukim di sekitar bantaran sungai Wae Bobo menilai bahwa program Yayasan Bambu Lestari itu tidak memiliki asas manfaat bahkan cenderung mengancam wilayah permukiman dengan radius kurang lebih 20 meter dari bantaran sungai.

Ketua RT 016 Kampung Bugis, Serilus A. Hani mengungkapkan kekhawatirannya apabila suatu saat anakan bambu yang telah ditanamkan di sungai itu, berpotensi menyempit wilayah aliran sungai hingga menyebabkan air sungai merusak sisih timur Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan radius 20 meter dari pemukiman warga.

Baca Juga: DPC Partai Demokrat Ende Membantah 15 DPAC Yang Diduga Nakal

"Suatu saat ketika bambu-bambu tumbuh besar maka akan mempersempit wilayah aliran sungai. Bukan tidak mungkin hal ini berpotensi untuk meluapkan air ke wilayah pemukiman warga terutama ketika banjir," jelas Ketua RT 016 saat ditemui bersama sejumlah warga, Kamis, (19/05/2022).

"Kami tidak menolak program ini. Hanya kami tidak sepakat ketika anakan bambu ini ditanam di tengah aliran sungai Wae Boboi," imbuh Serilus A. Hani, dengan raut wajah kesal.

Baca Juga: Keberhasilan Victory-Joss Pimpin NTT Jadi Poros Maritim Selatan Timur Indonesia

Kepada NTT Express, Ketua RT, Serilus A. Hani menyampaikan sikap penolakan terhadap praktik taman bambu di tengah aliran sungai tersebut. Penanaman bambu di tengah sungai Wae Bobo, kata Serilus, "Dapat menyebabkan penyempitan sungai serta air akan mengalir ke wilayah RT 016 yang menurut saya akan menyebabkan banjir di dua wilayah RT yaitu RT 016 dan RT 015, RW 04," tegasnya.

Halaman:

Editor: Yohanes Marto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X